Wednesday, April 8, 2009

Bali Paradiso Perduto

Bali Paradiso Perduto atau Bali Surga yang Hilang, sebenarnya bukanlah Bali sebagai tempat tersembunyi yang dicari orang karena indahnya seperti surga, tapi Bali sebagai tempat yang mulai “hilang” akan sesuatu yang selama ini disimpannya, yaitu pesonanya, dan topeng itu mulai dibuka seiring dengan berlalunya waktu. Tempat yang dijual oleh Departemen Pariwisata ke seluruh dunia itu mengungkap banyak intrik dan cerita menyedihkan, getir tapi membuat orang yang pernah menenggak sedikit ramuannya pasti kecanduan dan makin penasaran.

 

Sejak WTC runtuh, orang di dunia mulai tidak aman dan baru sadar ternyata kita sudah masuk age of paranoia. Bali, sayangnya, harus merasakan efeknya lewat Bom Bali I dan II—sederet peristiwa memilukan tapi mungkin biasa-biasa saja di mata orang Aceh yang jadi korban tsunami, misalnya. Tapi, melihat tanah di sini terus diguncang masalah membuat hati ini getir juga. Bukan karena “I love Bali, kenapa engkau membom Baliku?”, tapi sesungguhnya saya sendiri tidak tahu harus diapakan globalisasi itu, karena orang Bali kalau tidak ada turis maka tidak makan, serba salah juga. Salah satu alasan Amrozi cs meledakkan Bali adalah karena orang luar negeri lebih kenal Bali ketimbang Indonesia, sehingga efeknya akan mendunia. Lalu mereka bilang, sebenarnya sasarannya adalah orang Amerika dan Australia. Tapi karena orang bule susah dikenali kewarganegaraannya, ya sudah diserempakkan saja. Ketika dibilang banyak orang lokal jadi korban, Amrozi cs menjawab “itu sudah nasib mereka”.

 

Pengakuan di atas memang tampak mengerikan, tapi itu juga mungkin ekses dari globalisasi Bali. Jika Aceh tidak beragama Islam dan diorbitkan ke dunia turisme, mungkin saja orang ingin meledakkan Aceh. Tapi masalahnya bukan agama begitu saja. Jakarta sudah belasan kali dibom dan Masjid Istiqlal pun pernah kena. Lantas orang berpikir ada konspirasi global yang mengadu domba Barat dan Islam. Beberapa orang menuduh Amerika sebagai dalang karena cari musuh baru, setelah Jepang, Jerman (Nazi), Rusia Komunis, dan sekarang orang Arab Islam. Saya kurang mengerti tentang apakah ada permainan atau tidak, tapi Bali masih punya gaung karena punya sesuatu yang cukup eksentrik walaupun tidak eksotik lagi karena orang Bali sudah banyak yang malu kalau mandi bugil di sungai dan orang kalau buang air besar tak perlu di semak-semak lagi.

 

Orang Bali tiba-tiba miskin lagi ketika bom terjadi. Hasilnya, mereka jadi rasis tak karuan terutama pada orang Jawa atau yang cari kerja dari pulau Jawa, karena Amrozi cs orang Jawa dan Azhari negeri seberang lautan (Jiran/Malaysia). Kampanye “Ajeg Bali” pun diberlakukan oleh pemerintah daerah. Kata orang Bali hasil didikan kampus, kampanye itu penuh jargon menarik, tapi intinya rasis. Sikap kembali ke budaya khas Bali itu bisa membunuh orang Bali sendiri dan banyak muda-mudi Bali skeptis tidak percaya dan tidak yakin, sebenarnya budaya Bali itu yang seperti apa—apakah seputar tari Kecak, Barong, Ngaben dan yang selama ini diiklankan di brosur pariwisata? Atau sebenarnya hanya sebuah laku adat biasa yang tadinya biasa-biasa saja dan tidak menarik, tetapi dipertontonkan agar menjadi devisa negara dan masuk kas pemda?

 

I Ngurah Suryawan dari Antropologi Universitas Udayana menguak bahwa Bali sebenarnya pulau yang penuh kekerasan. Pembantaian terhadap orang PKI pada 1966 sampai kejadian sehari-hari yaitu kerusuhan antar kampung/banjar dan pecalang (pengawas adat), sebenarnya disembunyikan di balik topeng “Pulau Dewata” dan segala jargon keindahannya. Tersirat memang, suku Bali kadang tak kalah chauvinistiknya dengan orang Batak atau Padang, tapi tak kalah dominannya juga dengan orang Jawa—walaupun untuk lingkungan pulau mereka sendiri. Budaya Bali adalah budaya yang cukup keras terhadap orang-orangnya. Kasta—walaupun banyak yang ingin mereformasinya—masih kental sekali. Dan upacara-upacara adat tidak dapat dilewatkan oleh siapa pun yang masih ingin disebut “orang Bali”. Meskipun budaya Bali tidak serta merta adalah budaya Hindu, dan banyak di antara unsurnya berasal dari budaya Majapahit, yaitu subak atau irigasi ala Bali. Sinkretisme begitu kuat, sehingga hampir tidak ada orang Bali yang mengaku “atheis”, karena dengan begitu ia artinya “bukan orang Bali lagi” secara otomatis. Karena budaya dan agama di situ bagaikan jaring laba-laba, tak bisa hadir kalau yang lainnya tidak hadir. Orang hampir tidak bisa membedakan mana yang adat Bali dan mana yang adat Hindu. Jelas ini adalah bukti bagaimana sebuah dunia terpencil memiliki rahasia dan sejarahnya sendiri—terlepas dari Indonesia yang Islam—dapat dibungkus dengan kedok pariwisata ke seluruh dunia.

 

Sekarang Bali juga masuk age of paranoia. Dua kali dibom (Bom Bali I dan II, dua-duanya di bulan Oktober) bisa bikin perasaan orang di pulau itu mati, dan orang semakin tidak percaya sama polisi. Memang, orang Bali jadi miskin lagi, karena jumlah turis yang paranoid dan trauma lebih banyak ketimbang jumlah turis gila yang mengatakan “Bali is fine”. Tak heran sekarang orang, walau masih terpesona dengan pulau itu, bisa bilang kalau ada “surga” yang mulai hilang. Entah apa namanya.

 

26 Oktober 2006


No comments:

Post a Comment