Wednesday, April 8, 2009

Porong

Beberapa orang mungkin punya curiga kalau tragedi lumpur panas Porong, Sidoarjo bukanlah kecelakaan begitu saja. Lumpur membludak karena kesengajaan Lapindo untuk menguasai tanah ratusan hektar di sekitarnya karena penduduk sudah tak mempan dibayar pakai uang. Perkiraan lumpur meluap baru akan berhenti 10 tahun lagi maka setelah itu Lapindo mempunyai tanah baru tanpa harus membeli pada penduduk. Tapi betapa kapitalisme memang terkadang ceroboh dan mau enaknya, ikan-ikan di laut pun harus menghadapi ajal yang menyiksa ketika lumpur-lumpur mulai dialirkan ke laut. Ulama Madura yang merasa wilayahnya terancam menolak dengan alasan lingkungan hidup tercemar, tapi sesungguhnya di belakang mereka ada ratusan bahkan ribuan nelayan yang kehilangan mata pencaharian karena mereka seharusnya menangkap ikan bukan menangkap lumpur.

 

Porong adalah akumulasi dari masalah lingkungan hidup di Indonesia. Hanya di Indonesia orang bisa mati karena keruntuhan gunung sampah seperti di Leuwi Gajah, Bandung. Di Filipina, tepatnya Manila, orang bisa ketemu banyak sampah, tapi hanya di Bandung orang bisa ketemu sampah tiap tiga meter dan baunya tercium sampai jarak 10 meter. Orang Jakarta (Jakarta weekenders) juga menjadi pelaku kejahatan sampah tiap akhir minggu di Bandung dan sekarang korbannya adalah Garut yang menjadi TPS-nya Bandung. Baru-baru ini orang juga mati karena sampah ketika belasan pemulung mati keruntuhan sampah di TPS Bantar Gebang, Bekasi. Saya curiga kalau itu ada kaitannya dengan budaya. Jikalau boleh memperbandingkan, di Bali saya paling jarang menemukan tumpukan sampah. Mungkin juga ada hubungannya dengan turisme internasional sehingga jalan-jalan harus bersih, tapi memang benar, sampah yang saya temukan di Bali hanyalah sampah bekas sesajen, sehingga bisa cepat hancur. Di gang-gang kecilnya pun saya tak menemukan got yang kotor dan bau, sampah-sampah, bahkan jemuran pun tidak kelihatan, karena di Bali tabu untuk menjemur di depan rumah. Pantai—terutama Kuta—memang lumayan kotor untuk ukuran orang bule, tapi itu hanyalah ekses dari kapitalisme di sepanjang garisnya. Di pantai lain terutama bukit selatan seperti Uluwatu, airnya masih luar biasa bersih dan suasana sangat indah—meskipun pembangunan cottage dan resort baru sudah mulai mengotori tempat itu.

 

Sayangnya orang kalau mau lihat seperti itu musti datang ke Bali karena di tempat lain Indonesia luar biasa bermasalah dengan lingkungan hidup. Kabut asap hasil pembakaran hutan yang sengaja maupun kebakaran tidak sengaja (tapi awalnya pasti sengaja karena ada orang bodoh membuang rokok yang menyala ke semak-semak kering di musim kemarau) bikin orang kita dan tetangga Malaysia-Singapura harus sesak nafas, maka itu para tetangga kita sakit hati dan menciptakan rudal yang bisa meluncur sampai Jakarta. Itu di musim kemarau, jika musim hujan datang, upacara rutin orang Indonesia adalah menyambut banjir dan demam berdarah. Lucu sekali orang tidak begitu peduli dengan kemalangan-kemalangan ini. Jika sifatnya bencana alam seperti Gunung Merapi dan Tsunami, maka yang ditunjuk adalah Tuhan, karena Tuhan marah orang perempuan tidak pakai jilbab dan orang suka seks, minum, ganja, judi, dan dansa-dansi. Tapi jika sifatnya karena faktor manusia, orang langsung menunjuk pemerintah dan pemerintah menjawab: “tidak ada dana”.

 

Orang memang pikiran nomor satunya adalah isi perut. Itu pasti. Tiap pagi orang di seluruh kota di Indonesia dan jutaan orang di Jakarta menggeber gas motor dan mobil untuk cari uang. Sorenya anda berdiri mengamati langit Jakarta yang berkabut karena asap dan itu adalah pemandangan biasa setiap hari. Orang pun hanya bisa mengeluh kalau tiap tahun di musim kemarau Jakarta bisa mencapai 40o Celcius suhunya. Gubernur Jakarta yang bodoh jelas tidak merasakan karena seluruh hidupnya diselimuti AC yang dingin dan sejuk, baik di kantornya, mobilnya, maupun rumahnya. Jelas ia pun tidak mendengar keluhan orang karena jalanan berdebu akibat pembangunan jalur Busway, pohon-pohon ditebangi tanpa penghijauan, dan udara makin panas. Nanti pun akan ada monorail yang membutuhkan banyak pohon ditebang lagi. Dan anehnya gubernur yang buta tak bisa melihat jelas kalau proyek water transport di Jakarta sangat tidak masuk akal karena sungai di Jakarta adalah comberan dan tempat sampah. Jika dia ingin bernostalgia seperti zaman Belanda ketika nyonya dan tuan bule naik perahu di Ciliwung yang masih jernih, mari sediakan untuknya mesin waktu dan martil untuk menggetok kepalanya yang pikun.

 

Maka itu berbahagialah wahai penduduk Bandung dan Jawa Barat bagian selatan yang masih bisa mandi dengan air yang betul-betul dingin dan sejuk. Air di Jakarta bikin mandi tidak terasa mandi dan ketika anda pakai baju, keringat muncul membuat mandi anda barusan percuma saja. Sayangnya sekarang di Bandung siang hari trend-nya seperti Jakarta, walaupun belum bisa memecahkan rekor suhu Jakarta 40oC. Malam di Bandung pun tidak lagi terkenal dengan orang-orang yang harus memakai mantel/jaket. Saya dengan celana pendek dan kaos oblong merasa Bandung di musim kemarau pada malam hari seperti Jakarta di malam hari sekitar 10 tahun lalu, yaitu ketika orang di Bogor kalau tidur masih harus pakai selimut.

 

Mungkin ramalan M. A. W. Brouwer di esainya bisa benar, bahwa kalau terus-terusan seperti ini dan pohon-pohon terus ditebangi, tanah Indonesia akan jadi seperti Lebanon atau Arabia yang gurun dan kering. Saya tidak tahu apakah akan ada solusi yang benar-benar solusi untuk masalah lingkungan dunia, tapi kita mungkin akan jadi seperti di film Waterworld (Kevin Costner) karena es kutub terus mencair, dunia tanpa tanah dan muncul Nuh baru. Tidak tahu apakah kita bisa ikut jejak Eropa yang mulai tinggalkan bahan bakar minyak. Orang Belanda karena hujan asam (acid rain) akibat efek rumah kaca, jadi mewajibkan tradisi lamanya untuk naik sepeda. Jika kita di sini berlomba-lomba untuk coba mobil atau motor model baru, di sana anda ditertawakan jika menabung untuk membeli mobil. Di situ tiap satu orang punya satu sepeda, juga untuk perdana menteri ke kantor pakai sepeda, karena selain orang tidak ingin hirup asap, bensin pun sangat mahal. Masalahnya, beberapa orang naif di sini mungkin ingin omong kalau BBM mahal, ya sudah kurangi berkendara. Tapi walaupun semua orang Jakarta membuang motor dan mobilnya, orang tetap gila kalau bersepeda ke kantor karena suhu yang seperti neraka. Maka itu kita tidak akan menemukan solusi instan karena pohon-pohon besar baru bisa bikin sejuk kalau sudah mencapai umur 50 tahun.

 

Porong menjadi titik kulminasi karena anjuran buang lumpur ke laut adalah hasil Susilo Bambang Yudhoyono tidak tahu lagi solusi terbaik. Indonesia sudah dimarahi oleh Greenpeace Asia dan mereka sudah membuang lumpur ke depan kantor Menko Kesra Aburizal Bakrie—oknum geng Bakrie yang juga punya saham Lapindo. Menarik sekali negeri ini, tapi menyedihkan. Orang benar-benar fatalis dan que sera, sera: Apa yang terjadi biarkanlah terjadi, karena semua itu sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan manusia tidak berhak campur tangan, karena kalau campur tangan kita katanya pasti berdosa. Jadi, que sera, sera saja, oke?

 

26 Oktober 2006


No comments:

Post a Comment